SUARA UNTUK NEGERI - MENUJU NYANYIAN RAYA


Minggu, 17 Juni 2012

Iwan Fals (51), salah satu penyanyi yang berusaha konsisten terhadap apa yang dinyanyikannya. Lirik lagu yang ditulis mencerminkan kondisi aktual pria bernama asli Virgiawan Listanto ini.

Di album terakhir Iwan Fals yang berjudul Keseimbangan, misalnya, Iwan lebih banyak menulis syair tentang pohon, tentang menanam, dan tentang pentingnya pohon bagi kehidupan.

Itu pula yang jadi perhatian dan kegelisahan Iwan selama beberapa tahun belakangan ini. Pentingnya menjaga lingkungan hidup dan gaya hidup yang serba alami sudah lama disadarinya. Gaya hidup alami itu tecermin dari segala aktivitasnya. Dalam menjaga kesehatan dan kebugaran, misalnya, selain tetap berolah raga, Iwan rajin mengonsumsi ramuan segar resep ibundanya, berupa minuman kunyit dan susu sapi.

Obat-obatan yang dikonsumsi Iwan juga lebih banyak herbal. Bahkan untuk kebutuhan sayur-mayur, Iwan Fals tak perlu belanja ke pasar. Iwan cukup memetiknya dari kebun di sekitar rumahnya kawasan Cimanggis, Bogor. Bukan hanya sayuran, buah-buahan dan tanaman obat-obatan juga banyak. Untuk buah-buahan, jenisnya lumanyan banyak. Dari mangga, jambu air, jambu biji, rambutan, jamblang, jeruk, pepaya, dan kelapa. Hampir setiap musim buah, Iwan juga panen buah. Sementara  di kebun yang lain yang luasnya sekitar 10 hektar, Iwan juga menanam padi, jagung, dan palawija.

Gaya hidup Iwan yang alami ini, menurutnya, solusi dari banyak persoalan. “Banyak persoalan hidup bangsa dan dunia itu bisa diselesaikan dengan cara menanam pohon. Gaya hidup yang lebih pro lingkungan hidup sedikit banyak sangat membantu  kelestarian alam. Yang pada gilirannya juga ikut memperpanjang umur bumi. Indonesia dikaruniai tanah yang subur. Ikan yang banyak. Kata Koes Plus, Indonesia itu  tanah surga. Tongkat kayu jadi tanaman, lautannya kolam susu,” ungkap pria kelahiran Jakarta, 3 September 1961 ini.

Dengan anugerah itu, mestinya kita bisa hidup serbakecukupan. Tapi kenapa kemiskinan masih banyak? Kenapa penganggur masih banyak? Karena menurutnya, Indonesia tidak mempertahankan jati diri sebagai negara yang hidup dengan bercocok tanam. Dengan kembali menjadi nelayan, petani, taraf hidup bisa naik. Sementara jarang yang berpikir tentang kebutuhan oksigen. Hutan ditebang, tanah kering kerontang, mengganggu keseimbangan alam.

Banyak keuntungan dari menanam pohon. Dengan menanam satu pohon saja, misalnya, berarti menyiapkan  kebutuhan oksigen. Belum lagi dimanfaatkan buah, daun, dan kayunya. “Satu pohon bisa menyuplai oksigen untuk dua orang,” tutur Iwan. Pupuk yang digunakan untuk memupuk tanaman di sekitar rumahnya juga organik, kompos dan pupuk kandang.*
(guh/adm)

(Sumber : tabloidbintang.com)








0 komentar:

Poskan Komentar

 
Salam Oi...
BPK Oi Tarakan